Penulis Perjalanan

Meski tak semua, hampir seluruh orang yang menisbatkan dirinya sebagai travel blogger / travel writer,selalu berfokus pada tempat / objek wisata saat ia menulis cerita perjalanannya. Mulai dari yang berbentuk preview, panduan wisata singkat sampai dengan yang lengkap. Padahal, baik dalam Oxford Dictionary maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “travel” dan “perjalanan” jelas tidak merujuk pada objek wisata, bahkan bukan pada tempat. Situs web The Free Dictionary by Farlex mendefinisikan kata “travel” sebagai “To go from one place to another” atau “The act or process of traveling”.

University of Florida mencatat beberapa tujuan traveling, diantaranya adalah untuk tujuan bisnis, wisata, religi dan perdagangan. Wisata hanyalah satu diantara sekian banyak tujuan traveling, bukan satu-satunya apalagi sebuah kemestian bahwa kalau traveling itu harus ke objek wisata. Pun, jika merujuk pada definisi dari The Free Dictionary by Farlex di atas, inti dari “travel” atau “perjalanan” adalah sebuah proses perpindahan dari titik awal ke titik akhir dan titik tersebut bukan hanya berarti tempat. Ketika untuk berwisata saja tak selalu harus dengan melakukan perjalanan, lalu mengapa kita harus menyempitkan makna bahwa melakukan perjalanan haruslah tentang berwisata?

Pertanyaannya, apakah benar orang yang hanya menulis tentang wisata itu adalah seorang “travel blogger / writer”? Atau justru yang demikian itu lebih pas jika disebut sebagai “tourism blogger / writer”? Lalu bagaimana dengan seseorang yang selalu menuliskan / membuat laporan tentang perjalanan bisnis yang ia lakukan, apakah tak boleh ia menisbatkan dirinya sebagai seorang “travel blogger / writer”, hanya karena ia tak berwisata? Atau bagaimana dengan seseorang yang selalu melakukan perjalanan untuk berdagang dan menuliskannya, apakah ia juga tak pantas untuk “menyandang” gelar tersebut?

“Certainly, travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.” ― Miriam Beard.

Bagi Samuel Johnson, seseorang yang melakukan perjalanan harus mengingat bahwa objek terbesar dalam perjalanannya adalah kehidupan manusia. Setiap daerah memiliki keunikan, adat istiadat dan kebijakan tersendiri, yang mungkin saja jauh berbeda dengan di tempat lain / daerah asal orang tersebut. Mengenal suatu daerah tentu tak bisa hanya dengan datang dan melihat. Kita harus mengetahui dan memahami latar belakangnya. Sekedar datang, melihat, lalu menjustifikasi bahwa sesuatu hal yang ada di suatu daerah itu buruk hanya karena berbeda dengan apa yang kita percayai / berbeda dengan kebiasaan di tempat asal kita, tentu bukanlah tindakan yang bijak, pun dewasa.

Contoh: Kalau kamu tinggal di Pulau Jawa dan sedang traveling ke Manado, cobalah datang ke sebuah kafe / restoran junk food dan panggillah pelayan dengan sebutan “Mbak / Mas”, jangan kesal jika mereka tidak merespon. Jangan pula bingung / heran bila ada pelanggan lain yang memanggil pelayan tersebut dengan “Cewek  / Cowok”, tapi ia malah merespon, meskipun di daerah asalmu panggilan tersebut biasa digunakan untuk menggoda seseorang. Karena di Manado, panggilan “Cewek / cowok” adalah pengganti “Mas / Mbak / Bang” untuk memanggil pelayan. Apakah ada bentuk pelecehan karena menggoda? Tidak ada, jika kita mau mencari tahu latar belakangnya. Sekali lagi, menulis perjalanan tak sekedar menulis tentang apa yang kita lihat / alami / rasakan, tapi juga kenapa hal tersebut bisa terjadi.

“Great travel writing consists of equal parts curiosity, vulnerability and vocabulary. It is not a terrain for know-it-alls or the indecisive…. We observe, we calculate, we inquire, we look for a link between what we already know and what we’re about to learn. The finest travel writing describes what’s going on when nobody’s looking.” ― Tom Miller

Share

Tinggalkan Komentar


Situs web ini menggunakan Akismet untuk menghalau spam. Klik di sini untuk melihat kebijakan privasinya.


Avatar

Rifqy Faiza Rahman

6 tahun yang lalu

Kalau menurut saya, mengutip perkataan Bapak saya, “keluarlah (melakukan perjalanan), supaya tahu bahwa bumi Allah itu luas”, dan saya berpikir perkataan itu benar-benar dalam dan maknanya banyak. Perjalanan itu adalah mencari sisi lain, salah satunya misalkan jika ada 10 orang termasuk saya mengunjung sebuah tempat wisata, 8 orang berbicara orang berbicara mengenai keindahan dan kebanggaannya menginjakkan kaki di tempat tersebut, sedangkan 2 sisanya (mudah-mudahan saya termasuk, hehe) bercerita tentang proses ke sana, atau sesuatu yang berefleksi, dan pasti akan mengambil hikmah lain yang lebih penting daripada sekadar selfie lalu promosi 🙂

Avatar

Pradikta Dwi Anthony

6 tahun yang lalu

Sebenarnya titik berat tulisan bukan soal penulis perjalanan itu semestinya nulis yang gimana, tapi lebih kepada meluruskan perbedaan arti penulis perjalanan dan penulis wisata. Selama ini kan orang menganggap bahwa perjalanan itu ya wisata, kalau ga wisata ya bukan perjalanan, padahal persepsi itu salah. Penulis perjalanan ya penulis perjalanan, entah itu perjalanan bisnis, perjalanan wisata, perjalanan religi dan lain-lain. Gitu sih. Hee..

Avatar

Rifqy Faiza Rahman

6 tahun yang lalu

La nggih, Mas, maksud saya kan demikian. Saya bilang “salah satunya, misalkan…”, perjalanan itu seperti hijrah Mas,

Avatar

Pradikta Dwi Anthony

6 tahun yang lalu

Wahahaahaha. Iya. Maaf ya. 😀

Avatar

Rifqy Faiza Rahman

6 tahun yang lalu

Hahaha, saya nyantai kok wkwkwk, 😀

Avatar

Adie Riyanto

6 tahun yang lalu

Lagi, polemik tentang sesuatu yang gak bosan-bosan dibahas. Bebaskan saja mas Anthon, jangan terjebak dalam pelabelan-pelabelan yang tidak perlu. Nikmati saja varian catatan perjalanan yang sedang berlangsung euforianya saat ini. Hehehe. Saya pernah menuliskannya dua tahun lalu di sini. Mungkin masih relevan. http://adiedoes.blogspot.com/2012/12/10-hal-paling-tidak-menyenangkan-dalam.html?m=0 Hehehe. Salam.

PS: btw, blognya bagus 🙂

Avatar

Pradikta Dwi Anthony

6 tahun yang lalu

Hehe. Kayaknya maksudnya ga tertangkap nih, kebiasaaan saya kalau nulis terlau eksplisit. *self keplak*

Tulisan ini bukan mengarahkan bahwa “travel writing” itu harus A atau B, tapi mencoba mengembalikan definisi “travel” / “perjalanan” sesuai dengan asalnya, yang intinya adalah bukan tentang wisata. Saya prihatin bahwa dewasa ini kata “traveling” dan sejenisnya hanya diartikan pergi untuk berwisata, padahal tidak. Pun saya yakin hal ini bukan polemik, kalau kita mau baca KBBI atau kamus definisi. 😀

Btw, terima kasih sudah mampir. 🙂

Avatar

indahrasti

6 tahun yang lalu

Saat menulis tentang perjalanan, saya selalu mengaitkan dengan diri saya sendiri. Terlebih, melakukan solo traveling membuat saya lebih mengenal diri saya sendiri, mengenal limitasi diri. Bukan sekedar jalan2, foto2, pamer. 😀
Biar tiap perjalanan punya arti tersendiri dlm hidup..

Avatar

Pradikta Dwi Anthony

6 tahun yang lalu

Mantap! Hee..

Toh hidup juga perjalanan kan. Kalau perjalanan hidup aja harus berarti, kenapa perjalanan liburan ga. 😀

Avatar

Efenerr

6 tahun yang lalu

kalau disimak lebih jauh lagi ada segmentasi dan pengelompokan dari beberapa genre travel writer. tapi kembali ke selera pasar.
bagiku sih travel writer yang baik adalah yang bermanfaat bagi orang lain. 🙂

Avatar

Pradikta Dwi Anthony

6 tahun yang lalu

Setuju, Om! Hee..

Fokus tulisan ini cuma mau meletakkan kembali term “travel writer / blogger” ke makna aslinya, yaitu “penulis perjalanan”, di mana perjalanan itu banyak macamnya, bukan cuma soal wisata (fokus di objek wisata / tempat). Ane agak ga rela kalau kata “travel” disempitkan jadi berarti “wisata”, padahal udah ada kata “tourism”. 😀

Avatar

Roy Saputra

6 tahun yang lalu

Good post, Ton!

Gua pribadi lebih suka menulis postingan traveling yang menceritakan apa imbas dari destinasi yang gua datengin ke diri gua sendiri.

Itu termasuk apa tuh?

Avatar

Pradikta Dwi Anthony

6 tahun yang lalu

Kayak yang gue sebutkan di atas menurut pendapat University of Florida, jenis travel itu banyak, salah satunya soal bisnis, wisata, religi dan refleksi. Nah yang elo sebutkan itu jenis refleksi. Gue yakin fokus artikel loe bukan di objek / tempatnya, yang merupakan domain “tourism”, tapi di pengalaman / perjalanannya dan itulah yang disebut “travel writing” a.k.a tulisan perjalanan, bukan cuma soal wisata. Hee..

Btw, thanks udah mampir! \o/

Avatar

arievrahman

6 tahun yang lalu

DEG!

Avatar

Pradikta Dwi Anthony

6 tahun yang lalu

Duh di comment Arif. DEG! 😐

Di @TravellersID Anda bisa membeli stok foto dan stok video berlisensi bebas royalti; cari, bandingkan, dan memesan tiket pesawat, hotel, dan sewa mobil murah di seluruh dunia; atau menggunakan jasa kami dalam bidang content marketing dan pembuatan video.