Pantai & Tugu Monpera, Wisata Sejarah dan Alternatif Sunset Spot

Setelah antar bos ke bandara sambil menukar tiket Trigana Air dengan Lion Air untuk keberangkatan ke Banjarmasin besok, gue pun segera menuju ke pinggir jalan raya untuk sedikit eksplorasi Kota Balikpapan. 10 menit sudah gue berdiri di pinggir jalan tanpa tahu gue ini sebenarnya mau kemana. Akhirnya angkutan umum jalur 6 pun berhenti di pinggir jalan menawarkan jasanya. Seperti terhipnotis, gue pun langsung naik ke angkutan itu, meskipun gue masih bingung mau kemana. 15 menit setelah angkutan umum ini jalan, terlihatlah sebuah monumen besar di sebelah kiri jalan dengan tulisan Monpera. “It sounds familiar”, pikir gue. “Kiri, Pak!” gue pun menyetop angkutan ini dan menyerahkan uang Rp3.000,00 sebagai timbal balik atas jasa sang supir.

Kawasan Monpera ini terlihat sepi, cukup aneh bagi sebuah objek wisata di hari Sabtu. Untuk dapat memasuki kawasan ini, gue harus dengan ikhlas menyerahkan uang sejumlah Rp500.00 sebagai retribusi. Kalau gue bawa motor akan kena tambahan Rp1.000,00 dan kalau bawa mobil akan kena tambahan Rp2.000,00. Murah juga nih objek wisata, padahal cukup luas wilayahnya.

Setelah masuk ke dalam, ternyata objek wisata ini ga sepi-sepi banget. Di dala terdapat banyak sekali muda-mudi, baik yang berpasangan menunggu “malam sakral” maupun sekumpulan anak muda yang terlihat sedang asyik bernarsis ria di depan monumen, sampai dengan yang sedang berlatih dance.

Tugu Monpera, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Monpera adalah singkatan dari Monumen Perjuangan Rakyat. Monumen ini didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Kalimantan Timur di masa penjajahan dulu. Monumen yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman atau tepat di seberang Markas Besar TNI AD Kodam VI Mulawarman ini memiliki tinggi sekitar 20 meter.

Selain tugu Monpera, di area ini terdapat sebuah taman yang cukup luas, lahan parkir kendaraan, beberapa gerobak warung, dan pantai. Ya pantai, awalnya gue ga tahu kalau tempat ini ada pantainya. Meskipun ga terlalu luas, tapi garis pantainya cukup panjang dengan pasir putih. Sayang air lautnya tidak jernih. Ya, beginilah Balikpapan, kota minyak.

Awalnya gue ga niat untuk berlama-lama di tempat ini, tapi karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.15 WITA dan matahari sudah terlihat mulai akan membenamkan dirinya, gue pun memutuskan untuk hunting sunset disini saja ketimbang di Melawai. Selain karena gue takut sang mentari bakal keburu tenggelam, gue juga pengen cari sudut lain untuk melihat sunset. 15 menit menunggu, sang mentari pun mulai tenggelam.

Mayoritas orang Balikpapan maupun wisatawan lain yang datang ke kota ini, pasti akan hunting sunset di Melawai. Tapi ketika beberapa hari lalu gue coba untuk hunting sunset disana, langit malah terlihat mendung gelap. Yah namanya juga fenomena alam, gue malah sebut hunting sunrise / sunset itu sebagai wisata minat khusus, hanya yang beruntung sajalah yang dapat menyaksikannya. Bukan begitu bukan?

Share
Iklan

Tinggalkan Komentar


Situs web ini menggunakan Akismet untuk menghalau spam. Klik di sini untuk melihat kebijakan privasinya.


Stok Foto & Video Balikpapan

Di @TravellersID Anda bisa membeli stok foto dan stok video berlisensi bebas royalti; cari, bandingkan, dan memesan tiket pesawat, hotel, dan sewa mobil murah di seluruh dunia; atau menggunakan jasa kami dalam bidang content marketing, videografi, dan pembuatan website.